Smart man + smart woman
March 26, 2008 at 12:46 am | In love storiez | Leave a CommentTags: affair, man, marriage, pregnancy, romance, smart, woman
ROMANCE MATHEMATICS
Smart man + smart woman = romance
Smart man + dumb woman = affair
Dumb man + smart woman = marriage
Dumb man + dumb woman = pregnancy
To be happy with a man, you must understand him a lot and love him a little.
To be happy with a woman, you must love her a lot and not try to understand her at all.
PROPENSITY TO CHANGE
A woman marries a man expecting he will change, but he doesn’t.
A man marries a woman expecting that she won’t change, and she does.
DISCUSSION TECHNIQUE
A woman has the last word in any argument.
Anything a man says after that is the beginning of a new argument.
Ketidakromantisan Cowok?
March 5, 2008 at 3:55 am | In love storiez | 4 CommentsTags: man, marriage, romantic, romantis, woman
*Sebuah topik yang nongol di salah satu milis yang gw ikutin, dan mayan menarik mata buat ngebuka e-mailnya, bukan nge delete seperti yang biasa gw lakuin ke ratusan e-mail di milis lainnya
Beberapa hari yang lalu, ada temen perempuan gw yang curhat tentang cowoknya.
She said, “Ji, kenapa sih co gw ga bisa romantis ke gw?”
Sebuah pertanyaan yang simpel, pertanyaan sederhana. Tapi tetap saja, pertanyaan itu bikin gw terdiam. Pertanyaan sederhana itu seakan menohok ulu hati gw, gw dengan segudang ego laki-laki yang ada di dalamnya. Sebuah pertanyaan yang (sekali lagi) dapat dijadikan bahan pembenaran bahwa mayoritas laki-laki adalah tidak romantis. Dan mungkin, gw adalah salah satu bagian dari mereka itu. Mungkin pertanyaan di atas tadi cuma sekedar pertanyaan retorik, pertanyaan yang memang sangat tidak mungkin untuk gw jawab. Karena memang, gw bukan co dia; dan lagi, setelah mengutarakan pertayaan ini, dia kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Tapi hal ini bikin gw mikir. Why every girls want their boyfriend to be romantic?
Ego gw bilang, perempuan selalu ingin bisa diterima apa ada-nya, tapi kenapa mereka ingin laki-laki untuk menjadi sesuatu yang bukan mereka? Hm, ini bukan jawaban terbaik yang akan gw sampaikan ke dia. Ini cuma sedikit letupan emosi atas kekakuan ego gw saja.
Hm, man with his un-romantic attitude.
Pikiran gw kembali melayang; beberapa hari yang lalu gw pergi ke mall dengan orang terkasih gw. Saat hendak masuk ke mobil, gw bukakan pintu mobil tempat duduk dia, dan kemudian menutupkan pintu mobil itu setelah ia duduk di dalamnya.
Gw lihat dia tersenyum. Senyum yang sangat bahagia. It made me think, am I being romantic? Duh, padahal itu nggak gw sengaja; gw ga pernah berusaha untuk berubah untuk menjadi seseorang yang bukan gw. I’m just being myself. Kebetulan waktu itu pintu mobil gw sedang bermasalah, dan hanya melalui pintu kiri-lah central-lock mobil bisa terbuka. Dan oleh karenanya, gw harus membuka kunci itu dari sisi pintu dia, dan of course, I’ll open the door for her – sekali jalan, kan?
Tapi hal itu telah membuat dia tersenyum. Senyum bahagia. Mungkin senyum heran juga, kenapa gw bisa berubah romantis seperti itu. Hahaha.
Dan kejadian itu bikin gw bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan ke gw tadi, kenapa laki-laki ga bisa romantis.
Well, perempuan (atau setidaknya, sebagian besar darinya) selalu mengharapkan kekasihnya untuk being as romantic as possible. Romantis dalam tindakan, dalam tingkah laku kesehariannya, romantis yang dapat terlihat secara langsung, secara nyata.
Tapi lelaki, kadang merasa tidak mungkin untuk melakukan itu (kecuali dalam sinetron-sinetron, atau malah lelaki yang hendak menyem-bunyikan sesuatu dari pasangannya, hahaha). Seperti halnya bila seseorang bergender lelaki dipaksakan untuk ikut dalam kesenian tari – maka tiap orang pun bisa melihat bahwa he’s not into it. Kelihatan banget kaku-nya mereka dalam bergerak.
Dan itulah yang terjadi saat lelaki berusaha untuk berubah menjadi seseorang yang bukan dirinya; akan terlihat sangat kaku; bahkan akan terlihat sangat ganjil, yang justru membuat mereka nampak tidak bersungguh-sungguh dalam melakukannya. They will look even un-romantic!
But it doesn’t mean we’re not romantic. Sesungguhnya ada sisi romantis inside us. Hanya saja hal-hal tersebut tidak mungkin untuk bisa dilihat secara langsung; tidak kasat mata.
Hm?
Begini, seorang lelaki saat merasakan begitu mencintai pasangannya, dalam alam tak sadar-nya, merasa, tidak mungkin untuk tidak bersamanya. Bahkan untuk sekedar berpisah dalam sebuah telenovela pada sebuah mimpi; saat ia terbangun, akan sangat terasa sisi hampa di bagian hatinya.
Hal-hal seperti ini mungkin tak kan pernah terucapkan. Mungkin kami hanya bisa menatap lekat dia, dan menggenggam erat tangannya. Sebagai bukti dalam hati, bahwa cuma ada kamu di hati-ku, dan tak-kan pernah kulepaskan.
Sebagai bukti betapa aku sangat mencintaimu.
Kami romantis, kan?
written by Aji Saka
ajisaka76@yahoo.com
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.